Kepada Diri Sendiri Di Masa Depan

Kepada diri sendiri di masa depan,

Hai, apa kabar?
Tidak seperti surat-surat sebelumnya yang aku harap sampai ke tujuan, aku harap surat yang ku tulis untukmu ini tak pernah kau baca. Tak perlu kau baca. Karena ketahuilah, surat ini ku buat sebagai bekal saat kau harus menghadapi patah hati, bekal saat kau merasa dirimu tak berarti dan sangat membenci dirimu sendiri, bekal saat kau lupa dirimu disayangi, bekal saat kau merasa hidup sangat berat hingga tak mungkin lagi untuk dijalani. Bekal yang ku harap tak akan pernah kau perlukan lagi.

Well, mengenalmu selama 28 tahun, sudah tak terhitung berapa kali kau merasakan seperti itu. Bersyukur kondisimu membaik belakangan ini. Tak ada lagi hari-hari berat saat hal yang paling kamu benci adalah dirimu sendiri dan yang sangat ingin kamu habisi adalah hidupmu sendiri. Kau sudah mulai belajar memaafkan dan memeluk dirimu sendiri. Kau sudah mulai mengerti dan memahami arti penerimaan. And just so you know, at this point I’m so proud of you.

Tapi…kalau ternyata suatu saat entah kapan kau merasa memerlukan dan memutuskan untuk membaca surat ini, aku harap kau bisa menemukan apa yang kau perlukan dan yang kau cari.

Aneh? Iya… Pelajaran pertama kalau-kalau kau lupa dan surat ini sempat kau baca…aku yang juga adalah kamu ini adalah orang yang aneh. Orang yang tidak biasa. Orang yang seringnya punya pikiran berbeda dengan orang kebanyakan, dan itu tak apa. Dirimu tak sempurna. Akan ada orang yang menyebutmu aneh atau bahkan gila, terima saja. Tak perlu membuang banyak waktu dan energi untuk menjelaskan, tak semua orang akan mengerti. Tak semua orang harus berpikiran sama. Kau aneh, itulah kenyataannya. In fact, kamu punya banyak sekali kekurangan. Tak apa.

Kedua, ada banyak hal dalam hidup yang ingin kau ubah, terutama untuk hidup orang-orang yang kau sayangi. Sudah jadi tabiatmu sejak dulu tak tega melihat orang lain menderita. Sering kau berharap bisa menyelesaikan semua masalah, mengangkat sakit dan derita semua orang yang kau cinta, bahkan sekali dua kau berharap bisa menghidupkan kembali nyawa yang sudah tiada. Kau lupa kau hanya manusia biasa. Kalau suatu saat perasaan itu datang lagi…ingatlah, kamu hanya manusia biasa, dan itu tak apa. Tak semua sakit bisa kau sembuhkan. Tak semua petaka bisa kau hindarkan dari orang-orang yang kau cinta. Berusaha semampumu saja, dan ketika ternyata usahamu tak berhasil…terima saja.

Yang ketiga yang ingin kuingatkan padamu adalah percaya, tidak saja percaya kepada dirimu sendiri tapi juga percaya pada orang lain. Percaya ketika ada orang yang datang padamu menawarkan kebaikan (atau bahkan hatinya) adalah karena kau memang layak dicinta, bukan hanya karena ada maunya. Iya, iya…dalam hidupmu kau sudah banyak menemui orang yang datang dan sengaja atau tidak menyakitimu dan itu pasti membuatmu trauma lalu menjadi lebih berhati-hati, aku tau itu. Tapi kamu harus tetap percaya masih banyak orang yang benar-benar baik, yang menyayangimu karena memang dia begitu. Ketika orang itu tiba, percaya dia, terima dia. Lalu bagaimana membedakan orang yang benar-benar menyayangimu dengan orang yang akan menyakitimu? Well, that’s the thing about trust, man…kamu tidak bisa membedakannya. Kamu hanya perlu percaya. Tutup mata dan percaya.

Oh, asal kau tau saja, saat menuliskan surat ini aku baru saja menyakiti hati seseorang. Dia mengatakan dia menyayangiku dan reaksi pertamaku adalah mengabaikannya dan bersembunyi, ketakutan untuk mengatakan aku juga menyayanginya hanya karena aku tak percaya rasa sayangnya sebanding dengan rasa sayangku padanya dan memilih untuk memendam saja rasa sayangku untuknya dan itu menyakitinya. Bodoh? Iya… Aku melakukan hal bodoh dan ku harap kau tak melakukan hal bodoh yang sama. Jangan begitu lagi ya…

Nah, ku rasa aku sudah menyampaikan semua yang perlu kau tau dan kau ingat kalau-kalau kau memerlukannya nanti. Yang penting kau pahami, dalam hidup intinya adalah menerima. Terima dirimu sendiri, terima orang lain yang datang dalam hidupmu, terima apa pun yang dipercayakan Semesta untuk ada dan tidak ada dalam hidupmu. Rasa bahagia, derita, senang, sakit, segala suka dan duka…semua adalah bagian dari hidup yang harus kamu terima. Percaya bahwa semua sudah diatur oleh Sang Maha Segala. Percaya bahwa yang harus terjadi pasti terjadi, dan apapun yang terjadi adalah memang seharusnya terjadi. Percaya saja. Jalani saja.

Jadi apa pun alasan yang mengharuskanmu membaca surat ini (lagi) kali ini…semoga kau segera bisa menerima dan berdamai dengannya lalu kembali menjalani hidupmu dengan sebaik-baiknya tanpa kekhawatiran dan penyesalan, okay?

yang selalu menyayangimu,
Rei-

*Surat Cinta ini dibuat dalam rangka memeriahkan #PosCintaTribu7e yang diadakan oleh @PosCinta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s