Dari Tante Kepada Keponakan Satu-satunya

Hai Sasun,
Saat surat ini tiba nanti kamu pasti sudah tau kenapa meski orangtuamu memberimu nama yang begitu cantik Luthfia Jihan Talita tapi tante-tantemu lebih suka memanggilmu dengan Sasun (beberapa kali tante pernah menulis tentangmu di sini). Ndak pa pa ya… Anggaplah itu panggilan sayang yang khusus kami ciptakan untukmu.

Nak, surat ini tante tulis saat kau masih merupakan satu-satunya keponakan kandung yang tante punya. Kau baru saja menggenapkan tahun ketiga keberadaanmu di dunia. Belum bisa membaca surat ini tentu saja. Jangankan membaca, menghafal huruf dan angka pun kamu belum. Bukan karena kamu bodoh, tapi memang kami…keluargamu belum merasa otakmu perlu dibebani dengan huruf dan angka. Kami ingin kau menikmati saja dulu masa-masa balitamu, bermain, tertawa dan berbahagia.

Saat surat ini kau temukan dan kau baca, entah sudah berapa usiamu. Sudah bersekolah pastinya, bahkan mungkin sudah melewati beberapa upacara kelulusan. Sudah mendapat cerita lengkap tentang Ibu dan Bapakmu juga tante rasa. Sudah bertemu kau sama Bapakmu, nak? Semoga sudah dan hubungan kalian baik-baik saja. Kalaupun belum atau kalaupun kau memutuskan untuk tidak pernah menemuinya, tak apa.

Di usiamu yang entah berapa saat kau membaca surat ini, mungkin kau sudah berkali-kali mendapatkan pertanyaan tentang keluarga kita. Tentang keluargamu yang mungkin menurut orang lain tidak lengkap. Mungkin sudah berkali-kali juga kamu pulang ke rumah dalam keadaan menangis karena ejekan teman-temanmu di sekolah atau karena iri melihat keluarga mereka yang nampak sempurna sementara keluargamu tidak. Paling tidak itulah yang seringnya Ibu tante (yang juga adalah nenekmu) khawatirkan. Semoga kekhawatiran nenekmu itu tidak terjadi ya, nak. Tapi kalaupun iya, tante harap saat itu terjadi tante bisa ada di sana untuk menyampaikan ini padamu…

Ketahuilah, nak. Keluarga kita memang tidak sempurna. Keluargamu ini punya banyak kekurangan. Tapi percayalah nak, di antara semua yang kurang-kurang di keluarga kita, ‘cinta‘ tidak termasuk di dalamnya. Keluarga kita ini, meski (katanya) tidak lengkap dan tidak sempurna, tapi selalu ada cukup cinta di dalamnya. Kau boleh kesal dan menangis saat kau dan keluarga kita diejek atau dihina, tapi kamu tak boleh lupa…di keluarga ini kamu selalu dicinta. Di keluarga ini kita saling melengkapi, saling menjaga, dan tak akan pernah kekurangan cinta.

Sasun, di mana pun kamu berada saat membaca surat ini, tante berda semoga hatimu senantiasa merasa tenang, dijauhkan dari benci dan kemarahan terhadap apa pun, serta selalu berbahagia.

Jaga diri baik-baik ya, nak…

tante yang tak akan pernah kehabisan cinta untukmu,
Rei

pixlr_20160512105826385

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s