Hijau

Sebelum kamu, hijau tak pernah tercantum dalam daftar warna kesukaanku. Selalu hitam, merah, dan atau biru. Semua yang mengenalku dengan baik pasti tahu, meski tidak seluruhnya tapi kebanyakan barang yang kubeli akan kupilih dalam warna-warna itu.

Biru warna kesukaan bapak, merah warna kesukaan ibu, mungkin dari situ mataku menjadi terbiasa dan nyaman dengan kedua warna itu. Hitam…ku rasa semua barang terlihat menarik dalam warna hitam.

Biru. Merah. Hitam. Tak pernah hijau.

Sampai beberapa bulan yang lalu seorang teman menawarkan barang dagangannya kepadaku dan warna pertama yang aku tanyakan adalah “hijau”.

Sebelum kamu, hijau tak pernah jadi warna yang aku pilih. Selalu hitam, merah, dan atau biru. Semenjak kamu, hijau adalah warna yang pertama aku cari untuk barang-barang yang akan aku beli. Mungkin karena hijau warna kesukaanmu. Mungkin otakku sudah terlanjur memetakan hijau sebagai warna yang mewakili keberadaanmu. Mungkin memiliki barang-barang berwarna hijau membuatku merasa kamu ada di dekatku. Dekat. Sangat dekat. Dan aku ingin ada di dekatmu. Ingin. Sangat ingin.

*beberapa saat setelah secara impulsif membeli kotak bekal makan dan botol minum berwarna hijau*

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s