Dear Diary

Hai, you
Lama tak mengunjungimu, apalagi bercerita dan menuangkan isi kepalaku. Terakhir kali kulakukan beberapa minggu yang lalu, kurasa.

Bukan. Bukannya aku tertidur atau koma sampai-sampai tak ada yang bisa kuceritakan selama berminggu-minggu. Bukan juga aku memendam semua cerita dalam kepalaku sendiri. Ada banyak cerita terjadi di setiap hari selama beberapa minggu ini, dan lebih dari siapa pun di dunia kamu adalah yang paling tau otak dalam kepalaku terlalu kecil untuk bisa bertahan menyimpan semua cerita sendirian. Otakku akan selalu membutuhkan media untuk pelampiasan agar tidak meledak.

Tapi sekarang sudah ada seseorang. Ada seseorang yang kepadanya semua ceritaku seharian berpulang. Ada seseorang yang mau mendengarkanku, mau menyimak, dan mengerti tanpa menghakimi. Semua ceritaku diterimanya. Sama sepertimu…tapi jauh lebih baik karena dia bisa berbicara. Ceritaku kepadanya akan disambutnya, dengan senyum, dengan tawa, dengan tanya, bahkan dengan kesal kadang kala. Ceritaku akan dibalasnya dengan cerita lainnya, cerita kesehariannya.

Dan aku merasa menjadi manusia. Bercerita dengannya membuat aku merasa menjadi manusia normal yang berbicara kepada manusia lainnya. Bukan berbicara dengan suara di dalam kepalanya sendiri atau bercerita kepada benda mati. Menyenangkan bisa merasa menjadi manusia…normal.

Ya ya ya…aku bisa saja bercerita padanya dan tetap bercerita padamu. Tapi aku juga percaya lebih dari siapa pun atau apa pun di dunia ini kamu adalah yang paling tau…aku tak suka mengulang cerita. Cerita yang sudah diceritakan pada seseorang terasa sudah kehilangan daya tariknya untuk diceritakan lagi dengan media yang berbeda. Meski anehnya aku tak pernah kehilangan semangat untuk bercerita kepadanya, walau tak jarang aku harus menceritakan kembali cerita yang sudah ku ceritakan keesokan harinya karena dia tertidur di tengah-tengah cerita.

Iya, aneh, aku tau. Aku yang biasanya bisa dengan mudah merasa kesal saat harus mengulang cerita bahkan karena sinyal yang tidak bersahabat, tapi dengan dia aku tak keberatan. Dia sering tertidur di tengah obrolan kami. Ralat, dia sering tertidur saat aku bercerita, atau lebih tepatnya aku sengaja bercerita untuk membuat dia tertidur. Kadang sengaja kupilih cerita yang memang membosankan. Kadang kupilih sebuah buku dan kubacakan untuknya sampai dia tertidur, tak jarang bukan cerita tapi lagu yang aku suarakan. Apa saja, asal ada suaraku katanya. “asalkan aku tau ada kamu“, katanya. Satu jam setelah sesi obrolan di telepon dimulai biasanya dia mulai tak lagi menjawab, hanya meninggalkan suara nafasnya yang halus dan teratur. Lalu keesokan harinya dia akan minta maaf dan merasa tak enak karena sudah tertidur duluan meninggalkan aku bicara sendirian. Setiap kali aku hanya tertawa berkata “tak apa-apa” karena sungguh tak apa-apa. Ku rasa tidur bukanlah dosa, tak perlu meminta maaf. Bukan salahnya juga kalau kantuk menghampirinya lebih dulu, matahari pun terbit lebih dahulu di kotanya daripada di kotaku. Dan jujur, dibandingkan dia yang mengalami kesulitan tidur berminggu-minggu yang lalu, aku lebih senang dia yang gampang tertidur seperti sekarang ini.

People change, eh? Mungkin aku yang sudah bertambah tua dan bertambah sabar. Mungkin ego bukanlah sesuatu yang aku pentingkan lagi sekarang. Asal dia senang, asal dia tenang, asal dia bisa tertidur dengan nyaman ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s