The Beauty Inside (2015)

Pikirkan satu orang yang kamu cintai. Kenapa dia? Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya? Apa yang membuat kamu nyaman dan bahagia bersamanya? Fisiknya? Penampilan luarnya? atau ‘isi’ di dalamnya?

Kebanyakan orang akan menjawab “dia baik“, “dia perhatian“, “dia pintar“, “dia menenangkan“, semua kualitas di dalam dirinya….’isi’ di dalamnya.

Yakin?

Bayangkan orang itu pada suatu hari datang di hadapanmu dengan penampilan dan kondisi fisik berbeda. Masihkah dia membuatmu jatuh cinta? Sama baik, sama perhatian, sama pintar, sama menenangkan, beda fisik, beda wajah, beda suara, bahkan beda usia, beda jenis kelamin. Dia yang kamu kenal sebagai seorang laki-laki dewasa yang membuatmu jatuh cinta tiba-tiba suatu hari datang di hadapanmu dalam sosok seorang bocah laki-laki, atau bahkan dalam sosok seorang perempuan. Sama baik, sama perhatian, sama pintar, sama menenangkan, beda fisik, beda wajah, beda suara, beda ‘bungkus’. Masihkah dia membuatmu merasakan cinta yang sama? rasa nyaman yang sama? bahagia yang sama?

Pertanyaan itu yang terngiang dalam kepala saya saat menyaksikan sebuah film Korea berjudul The Beauty Inside semalam.

the beauty inside

Film ini menceritakan tentang seorang perempuan yang jatuh cinta pada seorang laki-laki yang  ternyata harus mengalami perubahan fisik total. Lupakan tentang laki-laki tampan yang berubah menjadi cacat, kehilangan salah satu anggota tubuhnya, atau kehilangan fungsi indranya, film ini bercerita tentang perubahan TOTAL dan itu terjadi setiap hari. Laki-laki yang dicintai oleh perempuan itu mengalami perubahan fisik menjadi orang yang berbeda setiap kali bangun tidur. Satu hari dia adalah laki-laki tampan, esoknya berubah menjadi laki-laki tua, lalu menjadi perempuan cantik, berubah menjadi bocah laki-laki, kemudian orang Jepang, orang Inggris, China, perempuan tua, laki-laki gendut, lansia, tak pernah sama setiap hari (ada tidak kurang dari 20 orang yang memerankan tokoh si laki-laki ini dalam film The Beauty Inside ini).

Saya tentunya tidak akan menceritakan bagaimana kisah cinta mereka berjalan dan bagaimana film ini berakhir. Tapi sungguh film ini membuat saya bertanya-tanya, bisakah seseorang mencapai level mencintai setinggi itu? Mencintai ‘isi’ tanpa peduli tampilan luarnya. Kalau orang yang ‘isi’nya membuatmu jatuh cinta hadir dalam ‘bungkus’ yang tak kamu kehendaki, masihkah kamu akan jatuh cinta? Kalau kamu seorang perempuan (asumsinya pembaca blog ik adalah kebanyakan perempuan) yang menemukan semua kualitas diri yang bisa membuatmu jatuh cinta ada di dalam tubuh seseorang yang juga perempuan, misalnya. Masihkah kamu akan bersama dia? Atau kamu lebih memilih bersama seseorang yang ‘bungkus’nya bisa kamu terima meski ‘isi’nya biasa saja?

Would you forget it? would you go for it?

Mungkin cinta tidak benar-benar buta, after all… Mungkin “cinta tidak buta, cinta hanya tidak peduli apa yang dilihatnya” pun tak benar-benar benar, after all…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s