New Trial (2017)

Film Korea yang saya tonton semalam ini diadaptasi dari kisah nyata “iksan murder case” yang terjadi pada tahun 2010 di Korea Selatan. Film berdurasi sekitar 120 menit ini bercerita tentang seorang pemuda yang divonis bersalah oleh Pengadilan atas perampokan dan pembunuhan seorang supir taksi dan kemudian dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun. Setelah menyelesaikan masa tahanannya selama 10 tahun (iya, dapat keringanan hukuman) si pemuda kembali ke rumahnya dan bertemu dengan seorang pengacara yang karena alasan tertentu akhirnya bersedia membantu si pemuda tersebut untuk membuktikan dirinya bukan pelaku perampokan dan pembunuhan supir taksi yang terjadi 10 tahun yang lalu dengan mengajukan persidangan ulang di Pengadilan. Bersama si Pengacara tersebut kemudian si Pemuda mencari dan menemukan fakta-fakta hukum baru berkenaan dengan perkara perampokan dan pembunuhan yang membuatnya dipenjara selama bertahun-tahun. Termasuk yang paling menarik adalah bahwa 3 tahun setelah vonis dijatuhkan ternyata pelaku sebenarnya dari perampokan dan pembunuhan tersebut sempat menyerahkan dirinya sendiri pada Kepolisian namun ditolak.

Awalnya saya berharap akan mendapati banyak adegan persidangan dan ‘pertarungan’ pengacara dalam film ini. Sayang sekali film ini lebih banyak menyoroti ‘drama’ di balik persiapan persidangan ulang dibandingkan dengan pengungkapan fakta-fakta hukum baru di muka persidangan itu sendiri. Agaknya film ini memang dibuat dengan tujuan demikian, menyoroti kesalahan dan kesewenang-wenangan kepolisian yang sepertinya marak terjadi pada saat itu.

new trial

Di luar itu, ada satu adegan yang sangat berkesan buat saya, obrolan antara si pengacara pemeran utama dengan atasannya yang merupakan seorang Pengacara yang jauh lebih senior dan sangat terkenal. Dalam adegan itu digambarkan si atasan berusaha membuat si pengacara mundur dari perkara itu dengan menawarinya sebuah pekerjaan dengan imbalan besar. Si pengacara muda itu lalu bertanya pada atasannya “Bos, apakah anda pernah mendapatkan bayaran yang sangat besar?“, si bos lalu menjawab “pastinya jauh lebih besar dari yang pernah kamu terima“. Si Pengacara lalu mengeluarkan sebuah amplop dari saku kemejanya dan kembali bertanya “apakah anda pernah dibayar dengan menggunakan seluruh kekayaan seseorang?“, si Bos pun menggeleng. Si Pengacara tersenyum dan berkata “ga pernah kan? kalau begitu saya yang menang” sambil pergi menjauh. Amplop tersebut berisi sejumlah uang yang tidak banyak, tapi itu adalah seluruh tabungan yang dipunyai si Pemuda dan keluarganya yang diserahkan kepada si Pengacara sebagai pembayaran jasa Pengacara.

Adegan itu mengingatkan saya pada kalimat yang pernah beberapa kali saya baca di berbagai media sosial “Kau memilih bersama dia karena dia mampu memberimu dua juta rupiah sementara aku hanya memberimu dua ratus ribu. Kau tidak tahu dia punya dua ratus juta sementara aku hanya punya dua ratus ribu“. Yah…begitulah, kadang kita menyangka si A benar-benar menyayangi kita karena dia mampu memberi lebih banyak dibandingkan si B. Kita tidak mau tau, si A memang punya sangat banyak dan yang diberikannya hanya sebagian kecil dari semua yang dia punya, sementara si B memang hanya punya sangat sedikit tapi SEMUA yang dia punya itu yang dia berikan untuk kita.

*aelahhh bisa aja loe, Rei ah nyelip-nyelipin soal kasih sayang di tulisan beginian…*

Anyway, meskipun terasa kurang greget (gemes sih ngeliat kelakuan para Polisi yang begitu banget), tapi saya tidak menyesal sih menonton film ini. Cukup layak tonton menurut saya… ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s