Me vs SiTengil (tentang Berkabar)

Saya itu…tidak terbiasa membuat orang lain menunggu, apalagi membuat orang lain menunggu sambil bertanya-tanya karena tak memberi kabar berita. Kegiatan yang masih akan berminggu-minggu kemudian baru akan terlaksana pun sudah saya ceritakan saat masih dalam bentuk rencana. Seperti bermalam-malam yang lalu, “nanti tanggal 13 kaya’nya aku harus ke Singkawang deh urusan kantor, perjalanan sekitar 2 jam, pergi pagi mungkin sore baru pulang“, kata saya kepada siTengil mengantisipasi kemungkinan komunikasi kami akan sedikit terhambat seharian itu. Atau saat saya menceritakan rencana saya untuk melakukan solo traveling ke beberapa kota di Sulawesi Selatan dan kemungkinan akan meminimalisir penggunaan gadget untuk menghemat baterai. Karena “menghilang tanpa pemberitahuan dan membuat orang lain khawatir itu jahat“, menurut saya.

Berbeda dengan saya, SiTengil justru sering menyatakan keberatan saat saya melakukan itu. Justru menurutnya saya sengaja merencanakan untuk ‘sombong’ (‘sombong’ adalah istilah yang kami pakai kalau salah satu tak mengabari dalam waktu yang lama), dan masih menurut dia “kesombongan yang terencana adalah lebih jahat dibandingkan kesombongan yang terpaksa dilakukan secara tiba-tiba“.

SiTengil itu justru sering ‘menghilang’ dulu dan kabar menyusul kemudian. Dia bisa tiba-tiba ‘hilang’ saat kami sedang chat. Dia bisa sedang ngobrol di telepon kemudian “bentar ya…” dan ‘hilang’ berjam-jam (lebay juga sih ya hitungan ‘jam’ saja dibilang ‘hilang‘) tanpa kabar untuk kemudian muncul dan menjelaskan “tadi itu ada bla bla bla trus bla bla bla“, “tadi buru-buru ada bla bla bla, sekarang aku harus bla bla bla ya…“. Awalnya sih bikin stress dan cemas karena harus bertanya-tanya dan khawatir “kemana sih dia? ngapain sih? apa dia baik-baik aja? apa ada pasien gila dan berbuat macam-macam sama dia? bagaimana kalau dia dijahatin orang? bagaimana kalo ada apa-apa di jalan? bagaimana kalau dia diculik?“. Yah gimana yah…sebagai orang yang kerja di bidang hukum dan sudah tau dengan pasti kejadian kriminal itu tidak hanya terjadi di berita atau dalam sinetron dan percaya monster paling jahat di seluruh dunia bisa muncul dalam wujud manusia…wajarlah kekhawatiran seperti itu ada. Dan well, sedikit kesal karena perasaan “kok ga ngabarin sih?“.  Tapi yah…lama-lama terbiasa sih… Setiap kali mulai mikir macam-macam dan sedikit cemas banyak rindunya, mulai terbiasa untuk menenangkan pikiran sendiri “nanti pasti berkabar, paling juga terburu karena ada pasien atau urusan mendadak, nanti pasti cerita“, dan most of the time dia akan muncul dan bercerita “tadi ditelepon ada pasien, pasienku banyak hari ini, trus bla bla bla dan bla bla bla, lalu diajak makan bla bla bla, sekarang aku langsung bla bla bla ya…“.

Pun akhirnya kalau dia muncul tanpa penjelasan dan tanpa cerita yang menyebabkan dia ‘menghilang’ ya juga tak apa. Asal dia masih muncul saja sudah lega. Asal dia baik-baik saja. Asal dia masih ada ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s