Marah Marah Marah

Saya paling tidak suka dengan pertengkaran, apalagi yang melibatkan suara-suara keras. Suara teriakan dan makian atau suara barang yang dilempar atau dibanting, misalnya. Saya masih bisa mengingat beberapa kali ketika saya sampai pucat dan hampir menangis karena pacar saya (sekarang mantan) waktu itu sedang kesal lalu menutup pintu lemari dan laci dengan hempasan yang menimbulkan suara yang keras. Walaupun akhirnya yang bersangkutan mengklarifikasi bahwa itu tidak disengaja dan pintu lemari serta laci di rumahnya itu memang ‘licin’ dan sering terhempas sendiri, yah tetap saja saya sudah terlanjur terkejut dan merasa tak nyaman. Mungkin karena sejak kecil saya tidak terbiasa berada di lingkungan yang ‘keras’.

Seingat saya kedua orangtua saya jarang sekali kalau tidak bisa dibilang tidak pernah memperlakukan saya dan saudara-saudara saya dengan kasar. Saya hanya bisa mengingat sekali Ibu pernah memarahi kakak saya dan mengguyurnya dengan air dari selang di tengah hari, itu pun sudah lamaaaaa sekali. Saat itu saya bahkan belum memulai sekolah TK kalau tidak salah. Apa penyebabnya pun saya sudah tidak ingat. Saat saya duduk di bangku SD entah kelas berapa, sekali Bapak pernah menendang pantat saya sewaktu beliau pulang dari kantor menjelang maghrib dan mendapati saya belum mandi. Sekali Bapak pernah menampar pipi saya dan adik saya sewaktu kami bertengkar entah karena apa. Saya sudah dewasa saat itu, entah kuliah di semester berapa. Selebihnya saya tidak bisa mengingat adegan kekerasan di keluarga saya. Setiap kali Ibu dan Bapak bertengkar tak ada adu mulut yang berlebihan seperti di Sinetron, tak ada adu argumen bahkan. Ibu hanya akan menangis, mengemas beberapa helai pakaian dan pergi ke rumah orangtuanya. Meninggalkan beberapa lembar surat biasanya (mungkin dari Ibulah saya mewarisi kebiasan menuangkan isi pikiran ke dalam tulisan daripada mengoceh panjang lebar dengan mulut). Bapak kemudian meminta maaf (juga melalui surat) biasanya, lalu menjemput Ibu dan keluarga kami kembali damai dan tentram. Atau Ibu hanya akan mendiamkan Bapak dan Bapak mendiamkan Ibu (hal ini tidak berlaku saat ada tamu, apa pun yang terjadi…seberapa kesalnya pun mereka satu sama lain…di hadapan tamu mereka akan bersikap biasa saja seperti sedang tak ada masalah apa-apa) sampai rasa kesal masing-masing mereda dan keluarga kami kembali seperti sedia kala. Pokoknya sejak kecil saya tidak terbiasa berada di lingkungan yang penuh teriakan atau makian atau pertengkaran yang melibatkan kekerasan.

Maka tak heran jika hati saya terasa ngilu dan remuk setiap kali (sengaja atau tak sengaja) saya mendengar seseorang berbicara dengan nada tinggi dan kasar apalagi kepada seseorang yang seharusnya disayangi dan dijaganya. Seperti siang tadi, misalnya.

Siang tadi seperti biasa saya pulang ke kos untuk beristirahat. Sehabis makan siang mulailah saya mendengar suara-suara bernada tinggi berasal dari seorang perempuan yang tinggal hanya berjarak beberapa kamar dari kamar saya (kos tempat saya tinggal tidak berupa rumah biasa tapi berupa kamar-kamar yang berderet dengan kamar mandi dan beranda serta tempat jemuran masing-masing yang terpisah antara kamar satu dengan kamar lainnya) yang sedang memarahi anaknya. Sepanjang yang saya tangkap sepertinya si ibu sedang memarahi anaknya karena anak tersebut tidak mau menulis di sekolah dan malah meminta kawannya menulis untuknya. Saya tak sampai hati menuliskan kembali macam-macam kata yang diucapkan si ibu dengan bentakan dan diselingi suara “plak! plak!” serta erangan kesakitan si anak yang disertai dengan tangisan memohon agar ibunya tak lagi memukulinya. Mendadak ulu hati saya seperti diremas-remas rasanya. Saya tidak berani membayangkan luka apa yang nantinya akan membekas dan dikenang oleh bocah kelas dua SD (iya, si Ibu ngamuk karena anaknya yang masih di kelas DUA SD itu tidak mau menulis) itu sampai dia dewasa, dan saya sedang tidak membicarakan luka fisiknya tentu saja.

Sakit dan seram saja rasanya membayangkan bocah itu akan tumbuh menjadi dewasa dan kemudian menjadi orangtua yang percaya dan meyakini seperti itulah seharusnya cara orangtua mendidik anaknya, karena itulah satu-satunya cara yang dia ketahui dan pernah dia alami…dengan bentakan dan pukulan.

Saya tidak tau bagaimana akhirnya drama Ibu dan anak itu berakhir. Segera setelah menyelesaikan sholat dzuhur saya meninggalkan kos dan kembali ke kantor, tak cukup kuat hati untuk melanjutkan membanjiri kepala saya dengan makian si Ibu dan teriakan kesakitan si anak.

Sempat saya bisikan rasa syukur untuk masa kecil saya yang tidak dipenuhi kekerasan dan bentakan.

Sempat saya bisikkan rasa syukur sudah juga berhasil melewati masa-masa saat saya harus bersama seseorang yang tak segan membentak saya dengan kata-kata kasar yang membuat jantung saya terasa mau melompat keluar saat bertengkar nyaris di setiap hari selama beberapa bulan kebersamaan kami (yaelah ujung-ujungnya curhat kesitu, Rei…).

Alhamdulillah ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s