Kastengel

Semakin kupikir semakin kurasa begitu banyak cara yang bisa membuatku merasa dekat denganmu setiap kali aku merasa rindu. Menikmati sepotong kue lebaran kesukaanmu, misalnya.

Tapi semakin kupikir semakin juga kurasa begitu tipisnya batas antara obat rindu dengan penambah rindu. Betapa semua yang kurasa membuatku merasa dekat denganmu semakin membuatku merindukan kamu. Kue lebaran kesukaanmu ini, salah satunya.

Dan minuman larutan penyegar dengan rasa kesukaanmu. Dan makanan ringan rasa keju dalam bungkus plastik warna oranye dan biru bergambar macan kesukaanmu. Dan ratusan gambar wajahmu juga puluhan rekaman suara dan tawamu yang tersimpan di gawaiku. Dan jutaan percakapan kita yang terekam dalam ingatanku. Dan semua ingatan tentangmu yang tak pernah meninggalkan ruang dalam kepalaku.

Semua yang membuatku merasa dekat denganmu ternyata semakin membuatku rindu. Kek mana ini? Kek mana ini?

Me vs SiTengil (tentang Tidur)

Soal tidur, saya itu…entah sejak kapan tak bisa dengan mudah tidur. Perlu paling tidak waktu berjam-jam buat saya berguling-guling ga jelas di tempat tidur baru kemudian bisa (meminjam istilah SiTengil) termerem. Entah bagaimana awalnya tidur adalah kegiatan yang tidak begitu saya sukai. Mungkin karena saya jaraaanggg sekali bermimpi. Mungkin karena hidup sedang baik-baik saja. Mungkin karena saya merasa tidur membuat saya ‘kehilangan momen’ dalam hidup dan saya tidak suka itu. Bahkan saat mata terasa sangat mengantuk, sebagian diri saya tetap menolak untuk tidur dan alhasil itu membuat saya sanggup terjaga hingga lewat tengah malam.

SiTengil…satu dari sedikit orang yang saya tau bisa tertidur dengan sangat mudah. Tak jarang saat kami sedang chat membicarakan macam-macam dan sedetik kemudian chat tak berbalas dan sudah bisa dipastikan dia tertidur. Kadang dia pamit akan melakukan sesuatu kemudian ‘hilang’ dalam waktu yang lama, setelahnya dia muncul lagi tapi sesuatu yang akan dia lakukan itu belum dia lakukan karena saat telepon diletakkan dia langsung tertidur. Atau saat kami sedang ngobrol di telepon dan tertawa-tawa dan sekejap kemudian suara tawanya mendadak hilang berganti suara halus napasnya yang menandakan dia sudah terlelap. Orang lain yang saya tau bisa tertidur dengan cepat adalah Sisilia. Sisilia bisa tertidur saat sedang curhat. Sisilia bahkan bisa teriak-teriak ketakutan nonton film horor sambil menutup matanya dengan selimut kemudian bablas tidur meninggalkan saya nonton film horor sendirian dan makin tak bisa tidur. Atau kadang dia sudah tertidur lama, tiba-tiba bangun ketawa-ketawa nonton film komedi yang sedang saya tonton dan kemudian langsung lelap lagi. SiTengil pun begitu…sudah tertidur lama meninggalkan saya yang masih membaca buku sambil mendengarkan suara napasnya, kemudian bangun dan bercerita dengan semangatnya, lalu tidur lagi. Sungguh saya yang susah tidur ini dibuat heran dengan kemampuan orang-orang seperti itu.

Tapi, tak apa… Semakin dipikir saya rasa SiTengil yang mudah tertidur seperti ini lebih baik daripada SiTengil yang sedang kumat insomnianya, karena berdasarkan pengalaman beberapa kali…sungguh makin tak bisa tidur saya saat mengetahui SiTengil masih terjaga di malam hari. So yeah, kamu…gampang tidur aja seperti sekarang-sekarang ini ya…ga tenang aku kalo kamu susah tidur…hahahaha ^_^

 

Tetangga Kanan dan Tiramisu Kesukaannya

tiramisu (n) makanan penutup khas Italia berupa kue yang terbuat dari biskuit, keju, dan kopi dengan taburan bubuk kakao di atasnya

Kata orang, ada banyak cara berbahagia. Kata orang, bahagia itu sederhana.

Bagi dia salah satu kebahagiaannya adalah Tiramisu. Sesederhana itu.

Pernah sekali kacamatanya hilang entah kemana dan seharian itu kepalanya pusing tak terkira. Di tengah keluh kesakitan dan kepanikannya mencari kacamatanya yang hilang, seorang pelayan di kafe tempat kami janji bertemu datang menghidangkan sepiring kecil berisi Tiramisu di hadapannya. Mendadak dia diam. Mendadak matanya berbinar seperti bocah yang baru saja dibelikan mainan yang sudah lama dia idamkan. Mendadak wajahnya memancar bahagia. Tak ada lagi sakit kepala, tak ada lagi gerutu kekesalan perkara kacamata yang entah ada di mana. Sesendok kecil kue bertekstur sangat lembut dan bertabur cokelat bubuk itu disuapkannya ke dalam mulut. Matanya terpejam menandakan konsentrasi yang terpusat penuh pada rasa yang sedang mencumbu indra pengecapnya. Senyumnya mengembang. “Tiramisu ini ennnaaakkk sekali“, ucapnya dengan penekanan pada kata ‘enak’ sambil matanya kembali terpejam, kali ini menandakan derajat kelezatan nyaris sempurna yang baru saja dia nikmati.

Aku diam, tak berani berkomentar. Aku hanya tersenyum, tak berani mengganggu perjamuan nan agung yang sedang berlangsung dengan khidmat di hadapanku. Aku hanya menatapnya, memperhatikan tangannya menyuapkan sendok demi sendok ke dalam mulutnya yang tak henti tersenyum setiap kali potongan Tiramisu menyentuh lidahnya. Diam-diam aku berharap semoga tak pernah habis Tiramisu di hadapannya. Diam-diam aku berdoa semoga tak pernah hilang senyum di bibirnya, semoga tak pernah usai bahagia di hatinya. Diam-diam aku berjanji kalau perlu akan kubelanjakan setiap rupiah yang aku punya untuk membeli semua Tiramisu yang ada di seluruh dunia kalau memang itu bisa membuat dia selalu tersenyum dan bahagia.

Kalau saja hanya itu yang dia perlukan untuk selalu bahagia…

(Sambas, 120617 11:44 PM)

Me vs SiTengil (tentang Berkabar)

Saya itu…tidak terbiasa membuat orang lain menunggu, apalagi membuat orang lain menunggu sambil bertanya-tanya karena tak memberi kabar berita. Kegiatan yang masih akan berminggu-minggu kemudian baru akan terlaksana pun sudah saya ceritakan saat masih dalam bentuk rencana. Seperti bermalam-malam yang lalu, “nanti tanggal 13 kaya’nya aku harus ke Singkawang deh urusan kantor, perjalanan sekitar 2 jam, pergi pagi mungkin sore baru pulang“, kata saya kepada siTengil mengantisipasi kemungkinan komunikasi kami akan sedikit terhambat seharian itu. Atau saat saya menceritakan rencana saya untuk melakukan solo traveling ke beberapa kota di Sulawesi Selatan dan kemungkinan akan meminimalisir penggunaan gadget untuk menghemat baterai. Karena “menghilang tanpa pemberitahuan dan membuat orang lain khawatir itu jahat“, menurut saya.

Berbeda dengan saya, SiTengil justru sering menyatakan keberatan saat saya melakukan itu. Justru menurutnya saya sengaja merencanakan untuk ‘sombong’ (‘sombong’ adalah istilah yang kami pakai kalau salah satu tak mengabari dalam waktu yang lama), dan masih menurut dia “kesombongan yang terencana adalah lebih jahat dibandingkan kesombongan yang terpaksa dilakukan secara tiba-tiba“.

SiTengil itu justru sering ‘menghilang’ dulu dan kabar menyusul kemudian. Dia bisa tiba-tiba ‘hilang’ saat kami sedang chat. Dia bisa sedang ngobrol di telepon kemudian “bentar ya…” dan ‘hilang’ berjam-jam (lebay juga sih ya hitungan ‘jam’ saja dibilang ‘hilang‘) tanpa kabar untuk kemudian muncul dan menjelaskan “tadi itu ada bla bla bla trus bla bla bla“, “tadi buru-buru ada bla bla bla, sekarang aku harus bla bla bla ya…“. Awalnya sih bikin stress dan cemas karena harus bertanya-tanya dan khawatir “kemana sih dia? ngapain sih? apa dia baik-baik aja? apa ada pasien gila dan berbuat macam-macam sama dia? bagaimana kalau dia dijahatin orang? bagaimana kalo ada apa-apa di jalan? bagaimana kalau dia diculik?“. Yah gimana yah…sebagai orang yang kerja di bidang hukum dan sudah tau dengan pasti kejadian kriminal itu tidak hanya terjadi di berita atau dalam sinetron dan percaya monster paling jahat di seluruh dunia bisa muncul dalam wujud manusia…wajarlah kekhawatiran seperti itu ada. Dan well, sedikit kesal karena perasaan “kok ga ngabarin sih?“.  Tapi yah…lama-lama terbiasa sih… Setiap kali mulai mikir macam-macam dan sedikit cemas banyak rindunya, mulai terbiasa untuk menenangkan pikiran sendiri “nanti pasti berkabar, paling juga terburu karena ada pasien atau urusan mendadak, nanti pasti cerita“, dan most of the time dia akan muncul dan bercerita “tadi ditelepon ada pasien, pasienku banyak hari ini, trus bla bla bla dan bla bla bla, lalu diajak makan bla bla bla, sekarang aku langsung bla bla bla ya…“.

Pun akhirnya kalau dia muncul tanpa penjelasan dan tanpa cerita yang menyebabkan dia ‘menghilang’ ya juga tak apa. Asal dia masih muncul saja sudah lega. Asal dia baik-baik saja. Asal dia masih ada ^_^

Menabung Kebaikan

Aku balik ke Rumahsakit ya, ada koas sakit parah perlu opname, mungkin aku bisa bantu supaya cepat dapat kamar“, katanya pada suatu sore berbulan-bulan yang lalu. “Keluarganya jauh dan aku membayangkan kalo itu kamu yang sakit parah di Sambas jauh dari keluarga, aku sangat berharap ada orang yang juga membantu kamu“, lanjutnya

Saya tersenyum

Dia mengingatkan saya pada Bapak. Pada Ibu. Pada rumah. Pada nilai yang keluarga saya percayai selama ini, kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain pasti akan kembali kepada kita. Mungkin tidak segera, mungkin tidak dalam wujud sama, mungkin tidak langsung kepada kita, tapi pasti kembali kepada kita

Berbuat baik untuk orang lain itu tidak akan merugikan. Tapi, kalau hatimu belum bisa cukup ikhlas melakukan kebaikan untuk orang lain, bayangkan saja kamu melakukannya untuk orang yang kamu sayang. Bayangkan kakek tua yang kesulitan menyeberang jalan adalah kakekmu, bayangkan Ibu hamil yang harus berdiri di bus karena tidak kebagian tempat duduk adalah kakak perempuanmu, bayangkan anak kecil yang sedang menangis karena kehilangan Ibunya di mall yang ramai adalah keponakanmu. Kalau itu terjadi pada mereka…kamu pasti berharap ada orang yang datang menolong. Menabung kebaikan. Menolong kakek orang lain, kakak orang lain, keponakan orang lain, orang-orang kesayangan orang lain, kalau Tuhan berkenan akan Tuhan sediakan orang lain untuk menolong tidak hanya kamu, tapi juga orang-orang yang kamu sayang kapan pun mereka membutuhkan“, begitu selalu yang dipesankan dan dicontohkan di keluarga kami

Dan hari itu saya tau dia juga mempercayai nilai kebaikan yang sama. Saya tau dia tidak akan pernah mencurigai niat baik saya kepada siapa pun, saya tau saya tidak perlu mencurigai perbuatan baik dia kepada siapa pun ^_^

Remember You (2016)

Disclaimer : Film ini tidak diperuntukkan bagi penonton yang tidak betah dengan jalan cerita yang lambat

Film ini dibuka dengan adegan seorang laki-laki yang sedang berada di kantor Polisi untuk melaporkan tentang orang hilang. Uniknya, ternyata orang hilang yang dia maksud adalah…dirinya sendiri. Perjalanan kemudian membawa laki-laki yang ternyata kehilangan ingatannya tersebut secara tidak sengaja bertemu dengan seorang perempuan. Secara cepat hubungan mereka berubah menjadi hubungan asmara dan bahkan mereka sudah berencana untuk menikah. Sampai kemudian secara perlahan ingatan si laki-laki ini mulai kembali dan mempengaruhi hubungan antara mereka berdua. Apakah sebenarnya penyebab hilangnya ingatan laki-laki tersebut dan ada rahasia apa yang disembunyikan oleh si perempuan?

remember you

Sejak awal film ini terasa membosankan untuk saya karena alurnya yang terasa sangat lambat dan banyak adegan yang merupakan ‘monolog’ si laki-laki tersebut. Kalau saja tidak karena teringat salah satu dialog di film Train to Busan yang saya tonton sebelumnya (ga perlu saya ceritakan lagi di blog ini keknya ya betapa film Train to Busan ini wajib untuk ditonton *kecuali untuk siTengil, NO. Khusus untuk kamu saya tetap akan tidak merekomendasikan film ini untuk kamu tonton dalam waktu dekat ini*) “apa yang sudah kamu mulai harus kamu selesaikan“, ingin sekali rasanya saya sudahi saja menonton film Remember You ini dan beralih ke film-film lainnya. Sudah lebih dari separuh durasi ketika saya akhirnya mulai merasakan film ini menjadi menarik. Tokoh si perempuan dan sikap tokoh-tokoh lain di sekitar si laki-laki yang terasa sangat misterius dan mencurigakan mau tak mau membuat saya penasaran untuk menyelesaikan film ini. Sampai kemudian beberapa menit sebelum film berakhir barulah saya bisa memahami keseluruhan cerita yang ingin disuguhkan oleh film ini dan terjawablah semua pertanyaan yang saya simpan sepanjang film.

Seperti yang saya tuliskan di awal postingan ini, saya tidak menganjurkan film ini untuk ditonton oleh orang-orang yang tidak sabaran dan cepat bosan seperti saya dengan film beralur lambat. Walaupun demikian…seperti layaknya sebuah perjuangan…selalu ada hal manis dan baik yang bisa didapatkan di akhir bagi mereka yang senantiasa bersabar dalam penantian *hallaaaahhh apa deh, Rei….*

Malam Minggu dan Kenangan Buruk yang Datang Bersamanya

Aku tak tau kapan ini bermula, tapi aku tau aku tak suka malam minggu.

Setiap kali malam minggu tiba, kekhawatiran tak beralasan mendadak datang. Semacam percaya hal-hal buruk dan tidak menyenangkan akan segera terjadi. Semacam pusing, mual, dan ngilu di ulu hati datang bersamaan bertubi-tubi. Semacam ribuan gambar tak menyenangkan terbayang setiap kali menutup mata. Semacam keriuhan penuh amarah bergema di dalam kepala.

Tak ada kejadian buruk tentu saja. Kecuali lambung yang kadang menumpahkan kembali semua isi yang seharian dicernanya, seringnya semuanya baik-baik saja. Bahkan beberapa kali malam Minggu berjalan dengan sangat baik dan menyenangkan.

Tapi begitulah…selalu datang kekhawatiran hal-hal buruk dan tidak menyenangkan akan terjadi di malam minggu dan sungguh aku membenci perasaan itu.

Aku benci kekhawatiran yang muncul tanpa tau alasannya. Aku benci jantung yang berdegup lebih cepat dari biasanya. Aku benci kepala yang terasa lebih penuh dari malam-malam lainnya. Aku benci lambung yang mendadak ingin menumpahkan semua isi di dalamnya. Aku benci luka yang tak juga sembuh setelah sebegitu lamanya. Aku benci malam minggu dan semua kenangan buruk yang datang bersamanya.