…namun bila kau ingin sendiri…

Sejak kemarin music player yang saya dengarkan hanya memperdengarkan satu lagu secara berulang, Akad milik Payung Teduh. Lebih spesifik, versi yang saya dengarkan adalah cover milik Tereza yang terdengar lebih enak saja di telinga saya.

Dari keseluruhan lagu itu, ada satu bagian yang setiap kali saya dengar kata-katanya hati saya langsung terasa diremas dan ngilu…

…namun bila kau ingin sendiri, cepat-cepatlah sampaikan kepadaku agar ku tak berharap dan buat kau bersedih

Mungkin karena di dunia ini rasanya hal yang paling membuat saya tidak nyaman adalah mengetahui orang yang saya sayang dan saya pedulikan merasa tidak nyaman, sesedih-sedihnya saya akan terasa berkali-kali lipat sedihnya ketika mengetahui orang yang saya sayang sedang bersedih, terlebih lagi ketika saya tau saya menjadi bagian dari penyebab dan alasan ketidak-nyamanan dan kesedihannya. Dan buat saya lirik lagu itu menggambarkan dengan tepat perasaan saya, perasaan seseorang yang bersedia melakukan hampir apa pun agar tidak membuat orang yang disayangi bersedih, bahkan meskipun itu berarti harus pergi dan meninggalkan orang itu sendiri saat dia meminta. Yah…seperti itulah kira-kira…

Takut Kehilangan

Takut Kehilangan
(Rocktober ft. Tika Pagraky)

Tiang Nawang kengken rasane
Yen beli pesu mepayah bagus jejeh hatin tiang
Di pikiran tiang membayangkan ane tusing tusing

Beli nawang kengken rasane
Yen adi pesu mepayas jegeg keto mase ne rasayang beli
Tiang seken takut (beli mase takut)
Kehilangan beli

Reff :
Tiang ne seken sayang
Seken takut kehilangan
Beli ne bagus ne jani gelahan tiang
Beli ne seken sayang
Mase takut kehilangan
Adi ne jegeg ne jani gelahan beli

Sing ade maksud beli ne nembahin adi
Pesu pedidi
Lakar melali
Kal mekejang ulian tresna beline adi

Tiang nawang kenken rasane…

Ceritanya sih pagi tadi sudah ngetik postingan blog yang syahdu dan manis romantis, tapi karena tiba-tiba ada satu dan lain hal datang…buyarlah sudah mood untuk bermanis-manis dan calon postingan yang sudah terketik setengah itu bergabunglah dengan kawan-kawannya di folder draft entah kapan akan terselesaikan.

Dan karena sudah kadung buka wordpress, saya posting aja deh lagu yang baru rilis dan lagi sering didengar. Ini lagu berbahasa Bali sih…nanti deh lain kali kalo moodnya datang saya mo nulis tentang asal muasal bagaimana telinga saya bisa klik dengan lagu-lagu berbahasa Bali ini. Sementara itu…sepertinya saya harus hening dulu sejenak untuk merapikan isi kepala yang sudah berantakan dan isi hati yang terasa nyaris akan tumpah keluar

Di Doa Ibuku (Namaku Disebut)

Di waktu ku masih kecil, gembira dan senang
Tiada duka kukenang, tak kunjung mengerang
Di sore hari yang sepi Ibuku bertelut(*)
Sujud berdoa kudengar namaku disebut

Di doa Ibuku
Namaku disebut
Di doa Ibu kudengar
Ada namaku disebut

Seringlah kini kukenang di masa yang berat
Di kala hidup mendesak dan nyaris ku sesat
Melintas gambar Ibuku sewaktu bertelut
Kembali sayup kudengar namaku disebut

Di doa Ibuku
Namaku disebut
Di doa Ibu kudengar
Ada namaku disebut

Di doa Ibu kudengar
Ada namaku disebut

Jadi ceritanya malam ini lagi dengerin musik dengan acak sambil menunggu kantuk, kemudian terdengarlah lagu ini (ini versinya Nikita). Emang dasarnya lagi homesick dan PMS, meweklah perempuan yang kemarin hasil tes gendernya di sebuah random website adalah 50% female 50% male ini tanpa bisa ditahan sampai tak kuasa meneruskan lirik bait terakhir karena tanpa bait yang sedih itu pun airmata sudah tak terbendung dan semakin menjauhlah rasa ngantuknya ye…

(*) bertelut = berlutut

I Wish I Were There (2)

Aku tak suka memandang sungai di saat-saat seperti ini, sungguh pun ada banyak sungai mengalir di kota yang sekarang aku tinggali.
Percayalah, sangat tak menyenangkan rasanya membayangkan aku nekat menjatuhkan tubuhku sendiri ke dalam genangan air yang tak tampak dasarnya itu, berandai-andai alirannya akan membawaku bersamanya menuju laut lepas untuk menepi di kotamu

(Sambas, 190717 04:45 pm)

Hasta

Sebaik-baiknya orang jahat adalah ia yang setelah tau ia menyakiti orang lain ia lalu pergi dan tak pernah kembali

Bagiku orang itu adalah dia

Dia yang pernah hadir penuh pesona
Dia yang membuat jatuh cinta
Dia yang pernah menggoreskan luka
Dia yang namanya seperti kisah kami yang tak berjalan lama, Hasta

Dia yang setelah kuberitau betapa dia menyakitiku lalu dia segera pergi
Tak ada sedikitpun usaha menjelaskan atau meminta maaf
Dia hanya pergi
Aku bahkan tak perlu repot menghapus kontaknya atau berusaha menutup komunikasi kami
Aku bahkan tak perlu menghabiskan tenaga untuk memintanya pergi
Suatu hari ku ceritakan padanya betapa dia membuatku tersakiti
Ku ceritakan padanya hanya satu kali
Setelahnya dia segera pergi
Pergi dan tak pernah kembali

Lalu begitulah aku mengenangnya sejak bertahun-tahun lalu sampai kini
Satu di antara beberapa hal darinya yang sangat aku syukuri
Orang jahat paling baik yang pernah kutemui
Orang jahat yang tau diri
Menyakiti lalu pergi dan tak pernah kembali

Dan untuk itu aku akan selalu berterimakasih

*karena sungguh, orang tak tau diri yang setelah menyakiti masih selalu datang kembali bahkan setelah berulang kali diminta pergi itu sangat sangat sangat memuakkan. Tolong, pergi dan jangan pernah datang lagi*

Perkara Ujung Hidung

Aku tak pernah menduga bahwa perkara hidung bisa menjadi tidak sederhana. Paling tidak itulah yang aku alami dengan hidungku sejak hari itu.

Hidung kamu mancung sekali“, katamu sambil tersenyum menempelkan telunjukmu di ujung hidungku

Aku menyempatkan menatap matamu sejenak, sebelum terburu mengalihkan pandangan berusaha menyembunyikan pipi yang terasa hangat karena malu. Diam-diam bibirku ikut tersenyum, bertanya-tanya adakah hidungku ini akan cukup membuatmu rindu ingin selalu bertemu

Lalu begitulah, sejak saat itu setiap kali ada orang yang sengaja atau tidak menyentuh ujung hidungku otakku akan menghadirkan kembali sosokmu dalam bayangan dan aku akan seketika mengenang hari itu. Hari saat kamu menempelkan ujung telunjukmu di ujung hidungku. Setiap kali ada orang yang sengaja atau tidak menyentuh ujung hidungku aku akan membayangkan ujung telunjukmu yang sedang menyentuh ujung hidungku. Bertanya-tanya adakah kau sedang merindukanku seperti aku yang selalu rindu ingin bertemu denganmu

Tiba-tiba

Kamu adalah yang aku temukan saat aku sedang tidak mencari
Kamu hadir saat aku sedang tidak menanti
Entah bagaimana
Entah dari mana
Tiba-tiba ada
Tiba-tiba datang
Tiba-tiba kita bercerita
Tiba-tiba sosokmu terus terbayang

Kamu adalah pemberian Tuhan yang tidak pernah aku minta
Hadiah Semesta yang tidak aku duga akan tiba
Entah bagaimana
Entah dari mana
Tiba-tiba terbiasa
Tiba-tiba membuat sayang
Tiba-tiba tak ingin kamu hilang
Tiba-tiba berharap kamu selamanya

Sambas, 24042017

K.A.M.U

Ada alasan kenapa setiap Kamis rinduku terasa berlipat-lipat
Alasan sama yang membuat aku bangun lebih pagi di hari Jumat dan Sabtu, juga merasa sendu di hari Minggu

K.A.M.U

Sebuah Pertanyaan

Sudah tiga minggu sejak kali terakhir kita jumpa
Bagaimana? Apakah kau sudah terbiasa dengan rindu yang kau rasa?

Dadaku masih selalu sesak ketika rindu tiba
Senyum jahilmu masih terbayang setiap kali aku memejamkan mata
Samar wangimu masih terbayang di dalam kepala
Telingaku masih bisa mendengar suaramu tertawa

Aku masih merasa kita ada di tempat yang sama
Aku masih mencari-cari sosokmu di setiap wajah yang tertangkap pandangan mata
Aku masih tertidur dengan harapan menemukan wajahmu segera saat pagi tiba

Tak ada, tentu saja

Sudah tiga minggu sejak kali terakhir kita jumpa
Bagaimana? Apakah rindumu berkurang? Atau semakin menjadi setiap harinya?

(Sambas, 300417)